Draf IV - RUU PRT versi DEPNAKERTRANS (2006)

Draft III RUU P PRT DEPNAKERTRANS, tgl 14 – 06 -06

 

 

RANCANGAN

UNDANG –UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR         : … TAHUN …

 

TENTANG

 

PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA

 

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

 

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

 

 

Menimbang :       
a. bahwa bekerja merupakan hak asasi manusia yang wajib dijunjung tinggi, dihormati, dan dijamin penegakannya;

b. bahwa setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untukmemperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak sesuai dengan keahlian, keterampilan dan kemampuan;

c. bahwa jenis pekerjaan rumah tangga merupakan salah satu alternatif untuk menyerap jumlah tenaga kerja sebagai upaya mengurangi jumlah pengangguran di dalam negri;

d. bahwa jenis pekerjaan rumah tangga mempunyai karakteristisk tersendiri sehingga memerlukan perlindungan;

e.bahwa untuk memberikan perlindungan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c, perlu membentuk Undang – Undang tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga;

 

 

 

Mengingat       : Pasal 5 ayat (1), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28dan Pasal 31 Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

 

 

MEMUTUSKAN :

 

 

Menetapkan     : UNDANG – UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA

 

 

 

BAB I

KETENTUAN UMUM

 

Pasal I

 

 

Dalam Undang – Undang ini yang dimaksud dengan :

 

1.      Pekerja Rumah Tangga yang selanjutnya disingkat PRT adalah orang yang bekerja pada orang perseorangan dalam satu rumah tangga untuk melaksanakan pekerjaan kerumahtanggaan dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain

 

2.      Pengguna Jasa PRT yang selanjutnya disingkat PJPRT adalah orang perseorangan yang mempekerjakan PRT dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain

 

3.      Penempatan PRT adalah kegiatan pelayanan untuk mempertemukan PRT sesuai keahlian dan keterampilannya dengan PJPRT.

 

4.      Lembaga penempatan PRT adalah badan usaha/badan hukum yang mendapat izin tertulis dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.

 

5.      Perjanjian Penempatan PRT adalah perjanjian tertulis antara Lembaga Penempatan PRT dengan calon PRT yang memuat hak dan kewajiban masing – masing pihak dalam rangka penempatan PRT di rumah tangga.

 

6.      Perjanjian kerja adalah perjanjian tertulis antara PRT dengan PJPRT yang memuat syarat – syarat kerja, hak dan kewajiban para pihak.

 

7.      Perjanjian Kerjasama Penempatan adalah perjanjian tertulis antara Lembaga penempatan PRT dengan PJPRT yang memuat hak dan kewajiban masing – masing pihak da;am rangka penempatan dan perlindungan PRT.

 

8.      Perlindungan PRT adalah segala upaya untuk melindungi kepentingan PRT dalam mewujudkan terjaminnya pemenuhan hak – haknya sesuai dengan perjanjian kerja.

 

9.      Upah PRT adalah hak yang diterima langsung oleh PRT dalam bentuk uang dan atau bentuk lain sebagai imbalan dari PJPRT yang ditetapkan dan diabayarkan menurut suatu perjanjian kerja atas suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

 

10.  Instansi Kabupaten/Kota adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaandi Kabupaten/Kota.

 

11.  Instansi Provinsi adalah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di Provinsi.

 

12.  Menteri adalah Menteri yang bertanggung Jawab di bidang ketenagakerjaan.

 

 

Pasal 2

 

Perlindungan PRT berlandaskan asas penghormatan terhadap hak asasi manusia atas dasar kesetaraan dan keadilan gender tanpa diskriminasi .

 

Pasal 3

 

Perlindungan bagi PRT bertujuan memberikan :

 

a.       perlakuan kepada PRT secara manusiawi;

b.      bantuan kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan;

c.       kesempatan kepada PRT untuk meningkatkan keterampilan.

d.      pemenuhan hak –hak sesuai dengan perjanjian kerja.

 

 

Pasal 4

 

Lingkup pekerjaan kerumahtanggaan antara lain memasak, menyiapkan dan membereskan peralatan makan,mencuci dan menyetrika, membersihkan ruangan/rumah, membersihkan peralatan/perabotan rumah tangga, mengasuh anak, merawat orang tua/jompo, merawat dan mengemudi kendaraan, mengolal kebersihan dan perawatan kebun/taman serta pekerjaan kerumahtanggaan lainnya sepanjang dilakukan dalam lingkup rumah tangga yang disepakatai oleh PRT dan PJPRT.

 

 

Pasal 5

 

(1)         PRT dapat direkrut baik secara langsung maupun tidak langsung oleh PJPRT

 

(2)         PRT yang direkrut secara tidak langsung dapat melalui:

a. orang perseorangan; atau

b. lembaga penempatan PRT

 

(3)         Dalam hal PRT direkrut oleh orang perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (!) huruf a maka PJPRT wajib membuat kesepakatan secara lisan atau tertulis mengenai hak dan kewajiban masing – masing pihak.

 

(4)         Dalam hal PRT direkrut oleh lembaga penempatan PRT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, maka lembaga penempatan PRT dan PJPRT wajib membuat perjanjian secara tertulis yang memuat hak dan kewajiban masing – masing pihak.

 

 

Pasal 6

 

(1)   PRT yang direkrut melalui lembaga penempatan PRT atau orang perseorangan dan atau PJPRT berusia 15 (lima belas) sampai dengan 17 (tujuh belas) tahun maka harus memnuhi persyaratan:

 

a.       harus mendapat persetujuan dari orangtua/wali

b.      perjanjian kerja antara PJPRT dengan orangtua/wali

c.       dapat membaca dan menulis;

d.      waktu kerja paling lama 3 (tiga) jam sehari;

e.       tidak dipekerjakan pada malam hari;

f.       tidak membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral;

g.       memberi kesempatan untuk belajar;

h.      dipekerjakan untuk jenis pekerjaan yang ringan;

 

Catatan :

Perlu dijelaskan kelompok jenis pekerjaan yang ringan bagi PRT.

 

(2)         PRT yang telah memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditempatkan setelah lulus pelatihan keterampilan kerumahtanggaan

 

(3)         Biaya pelatihan keterampilan kerumahtanggaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibebankan kepada lembaga penempatan PRT atau orang perseorangan atau PJPRT.

 

 

Pasal 7

 

PRT yang dipekerjakan pada pekerjaan tertentu harus berusia sekurang – kurangnya 18 (delapan belas) tahun dan memiliki tanda lulus uji kompetensi;

 

Catatan : Perlu penjelasan, yang dimaksud jenis pekerjaan tertentu antara lain sopir, baby sitter, perawat Orangtua/jompo.  

 

Pasal 8

 

PRT dapat membentuk dan menjadi anggota organisasi atau serikat pekerja/serikat buruh PRT sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

 

 

BAB II

HAK, KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB

PEKERJA RUMAH TANGGA

 

Pasal 9

 

PRT berhak mendapatkan :

a.       Upah yang dibayarkan secara tunai kepada PRT;

b.      Tunjangan hari raya sebesar 1 (satu) bulan gaji;

c.       Waktu istirahat;

d.      Suasana kerja yang aman dan sehat;

e.       Tambahan pengetahuan/informasi dan keterampilan untuk meningkatkan produktivitas kerja;

f.        Kesempatan memperoleh informasi tentang keluarga;

g.       Kesempatan untuk berorganisasi atau berserikat;

h.      Kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan;

i.        Perlindungn terhadap keselamatan dan kesehatan kerja;

j.        Perlakuan yang baik dan manusiawi dari PJPRT dan tidak mendapat perlakuan yang diskriminasi serta tidak mendapat kekerasan dalam rumah tangga.

 

 

Pasal 10

 

PRT berkewajiban :

a.       melaksanakan pekerjaan dengan baik dan benar sesuai kesepakatan dan atau perjanjian kerja;

b.      menjaga kesusilaan dan keamanan di tempat kerja;

c.       menjaga nama baik dan kerahasiaan keluarga yang bersifat pribadi pengguna jasa dan keluarganya;

d.      memberitahukan kepada pengguna jasa PRT apabila PRTakan berhenti bekerja sekurang – kurangnya 15 (lima belas) hari kalender.

 

 

Pasal 11

 

PRT bertanggung jawab :

a.       menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik;

b.      ikut menjaga ketenangan, ketentraman dan keamanan rumah pengguna jasa.

 

BAB III

HAK, KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB

PENGGUNA JASA PRT (PJPRT)

 

 

Pasal 12

 

 

Pengguna jasa PRT berhak:

a.       memperoleh informasi mengenai PRT;

b.      mendapatkan PRT yang terampil, loyal dan memiliki etos kerja yang baik;

c.       mendapatkan hasil kerja PRT sesuai kesepakatan dan atau perjanjian kerja;

d.      memberhentikan PRTsebelum habis masaberlaku perjanjian kerja apabia PRT melanggar ketentuan yang telah disepakati di dalam perjanjian kerja.

e.       Memberikan pembinan terhadap PRT.

 

Catatan : Yang dimaksud dengan pembinaan terhadap PRT dalam Pasal 10 huruf d misalnya memberi nasehat, memberikan bimbingan dalam melakukan pekerjaan,......

 

 

Pasal 13

 

Pengguna jasa PRT berkewajiban :

a.       membayar upah sesuai kesepakatan dan atau perjanjian kerja;

b.      membayar upah tunjangan hari raya sebesar 1(satu) bulan gaji;

c.       memberikan waktu istirahat;

d.      memberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan;

e.       memberikan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja;

f.       memperlakukan PRT dengan baik dan manusiawi;

g.       memberikan makanan dan minuman yang halal dan bergizi;

h.      menyediakan fasilitas minimal;

Penjelasan

Fasilitas minimal antara lain seperti: pakaian, ruang tidur bagi PRT yang tinggal dengan pengguna jasa/pemberi kerja dan perlengkapan sehari - hari

i.        tidak mempekerjakan pada jenis pekerjaan yang membahayakan

j.        melaporkan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Kab/kota

k.      memberi petunjuk yang jelas tentang cara pelaksanaan pekerjaan serta dibimbing dalam melaksanakan pekerjaan.

 

 

Pasal 14

 

Pengguna jasa PRT bertanggung jawab :

a.       menciptakan suasana kerja yang aman dan sehat;

b.      menjaga keselamatan dan keamanan bagi PRT.

 

 

BAB IV

HAK, KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB

LEMBAGA PENEMPATAN PRT

 

Pasal 15

 

(1)   Lembaga penempatan PRT berhak mendapat imbalan jasa dari PJPRT setelah PRT ditempatkan sesuai kesepakatan antara lembaga penempatan dengan PJPRT

(2)   Imbalan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan hanya 1 (satu) kali pada saat PRT ditempatkan pada PJPRT.

 

Penjelasan :

Yang dimaksud dengan imbalan jasa adalah biaya yang dikeluarkan oleh penyalur yang meliputi biaya perekrutan, penampungan, pelatihan dan penempatan.

 

 

Pasal 16

 

(1)   Lembaga penempatan PRT harus mendapat izin dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.

(2)   Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh:

a.             Menteri, untuk Lembag Penempatan PRT yang lokasi kerjanya lintas Provinsi;

b.            Gubernur, untuk Lembaga Penempatan PRT yang lokasi kerjanya wilayah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) Provinsi;

c.             Bupati/Walikota, untuk Lembaga Penempatan PRT yanglokasi kerjanya wilayah Kabupaten/Kota

 

(3)   Untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Lembaga Penempatan PRT harus memenuhi persyaratan :

a. berbentuk badan hukum yang didirikan berdasarkan peraturan perundang – undangan;

b. memiliki kantor dan alamat yang jelas;

c. memiliki tempat penampungan yang memenuhi standar kesehatan dan ke    layakan;

d. memiliki sarana pelatihan kerja dan atau surat keterangan bekerjasama dengan lemabaga pelatihan

 

(4)   Ketentuan mengenai standar temapt penampungan PRT sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.

 

 

 

Pasal 17

 

Lembaga Penempatan PRT berkewajiban :

 

a.       menyediakan dan menyalurkan PRT;

b.      memberikan pelatihan kerja;

c.       menyeleksi calon PJPRT;

d.      membuat perjanjian penempatan antara Lembaga PRT dengan PRT

 

Pasal 18

 

Perjanjian penempatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf d dibuat secara tertulis dan ditanda tangani oleh calon PRT dan lembaga penempatan PRT yang sekurang – kurangnya memuat:

a.       nama dan alamat lembaga penempatan PRT;

b.      identitas calon PRT

c.       nama dan alamat calon pengguna jasa

d.      hak dan kewajiban para pihak dalam rangka penempatan;

e.       jenis pekerjaan bagi calon PRT;

f.       tanda tangan para pihak dalam perjanjian penempatan;

g.       biaya penempatan calon PRT.

 

Pasal 19

 

Lembaga Penempatan PRT bertanggung jawab:

 

a.       memberikan rasa aman bagi PRT selama di penampungan ;

b.      memberikan PRT pengganti atau mengembalikan imbalan jasa sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 apabila dalam tenggang waktu 3 bulan PJPRT complain atau PRT tidak bersedia melanjutkan hubungan kerja

 

BAB V

PERJANJIAN KERJA

 

Pasal 20

 

(1)   Perjanjian kerja antara PJPRT dan PRT dapat dibuat secara lisan atau tertulis dan berlaku untuk jangka waktu sekurang – kurangnya 1 (satu) tahun.

 

(2)   Perjanjian kerja yang dibuat secara lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan bagi PRT yang direkrut oleh perseorangan dan/atau PJPRT, dengan diketahui oleh Ketua RT/RW dan atau perangkat desa setempat.

 

(3)   Perjanjian kerja secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dibuat bagi PRT yang direkrut oleh lembaga penempatan PRT dan sekurang – kurangnya memuat:

 

a. identitas para pihak;

b. hak dan kewajiban para pihak;

c. jenis dan uraian pekerjaan kerumahtanggan;

d. kondisi dan syarat – syarat kerja yang meliputi jam kerja, upah dan tata cara pembayaran, hak cuti dan waktu istirahat termasuk istirahat mingguan;

e. jangka waktu berlakunya perjanjian kerja;

f.  kesempatan untuk menjalankan ibadah;

g. perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja;

h. penyelesaian perselisihan;

i.  tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat; dan

j.  tanda tangan para pihak.

(4)         Perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dbuat sekurang – kurangnya rangkap 2 (dua), yang mempunyai kekuatan hukum yang sama, dan masing – masing pihak mendapat 1 (satu) perjanjian kerja serta didaftarkan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenaga kerjaan setempat

 

 

BAB VI

PENGUPAHAN

 

Pasal 21

 

(1)         Besarnya upah RT diatur lebih lanjut oleh Pemerintah Daerah Provins, Kabupaten atau Kota sesuai kondisi setempat.

 

(2)         Selain upah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) PRT dapat memperoleh insentif lainnya berdasarkan kesepakatan atau kesediaan PJPRT

 

BAB VII

WAKTU KERJA DAN WAKTU ISTIRAHAT

 

Bagian Kesatu

Waktu Kerja

 

Pasal 22

 

(3)         PRT berhak atas istirahat antar waktu kerja, istirahat mingguan dan istirahat tahunan.

 

(4)         Waktu istirahat antar waktu kerja efektif, disesuaikan dengan waktu kerja efektif.

 

(5)         Waktu istirahat mingguan wajib diberikan sekurang – kurangnya 1 (satu) hari dalam seminggu.

 

(6)         Waktu istirahat tahunan wajib diberikan sekurang – kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah PRT yang bersangkutan bekerja 12 (dua belas) bulan secara terus menerus.

 

 

 

BAB VIII

PENYELESAIAN PERSELISIHAN

 

Pasal 24

 

(1)               Dalam hal terjadi perselisihan antara PJPRT, PRT dan lembaga penempatan PRT diselesaikan dengan cara musyawarah untuk mufakat kedua belah pihak;

 

(2)               Dalam hal musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak tercapai maka perselisihan diselesaikan dengan melibatkan Ketua RT/RW dan/atau perangkat desa setempat;

 

(3)               Dalam hal penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) tidak tercapai maka salah satu pihak atau kedua pihak dapat melakukan penyelesaian melalui jalur hukum.

 

 

BAB IX

 

PENGAKHIRAN HUBUNGAN KERJA

 

Pasal 25

 

(1)         Hubungan kerja dapat berakhir karena:

a.       kehendak kedua belah pihak,

b.      salah satu pihak melakukan wanprestasi;

c.       PRT mengambil barang milik PJPRT tanpa ijin

d.      PJPRT melakukan tindak kekerasan terhadap PRT

e.       PRT mangkir kerja selama 15 (lima belas) hari kerja berturut – turut.

 

(2)         Apabila salah satu pihak menghendaki pengakhiran hubungan kerja maka wajib menyampaikan kepada pihak lainnya sekurang – kurangnya 15 (lima belas) hari kerja sebelum berakhirnya hubungan kerja.

 

 

Catatan :

Ayat ini maksudnya hubungan kerja berakhir karena kehendak kedua belah pihak secara sukarela

 

(3)         PJPRT dapat melakukan skorsing kepada PRT sebelum pengakhiran hubungan kerja terjadi

 

(4)         Ketentuan lebih lanjut mengenai pegalhiran hubungan kerja dapat diatur oleh isntansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai kondisi daerah masing – masing

 

Catatan :

Buat penjelasan bahwa apabila tidak ada pengaturan lokal content maka para pihak harus membuat klausul – klausul dimaksud dalam perjanjian kerja.

 

BAB X

PENGAWASAN

 

Pasal 26

 

Pengawasan atas tindakan dilaksanakan Undang – undang ini dilakukan oleh Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan di bidang ketenagakerjaan pada Pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

 

BAB IX

PEMERINTAH DAERAH

 

Pasal 27

 

Pelaksanaan ketentuan – ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah sesuai dengan kondisi daerah.

 

BAB XII

SANKSI

 

Pasal 28

 

(1) Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota menjatuhkan sanksi administratif atas pelanggaran ketentuan Pasal 10, Pasal 13, Pasal 16 dan Pasal 17.

 

(2) Ketentuan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa :

 

a. peringatan tertulis;

b. penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan usaha lembaga penempatan PJPRT;

c. pencabutan ijin;

d. pembatalan penempatan calon PRT;

e. pembatalan penggunaan PRT.

 

(3)         Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri dan Peraturan Daerah.

 

BAB XII

KETENTUAN PENUTUP

 

Pasal 29

 

Undang – Undang ini muai berlaku pada tanggal diundangkan.

 

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang – undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

 

 

 

Disahkan di Jakarta

pada tanggal

 

      PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

 

 

      DR.H SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

 

 

Diundangkan di Jakarta

pada tanggal

 

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

            REPUBLIK INDONESIA,

 

           

 

            DR. HAMID AWALUDIN

 

 

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ...... NOMOR ......



Profil LBH APIK Jakarta

LBH APIK Jakarta adalah lembaga yang bertujuan mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan demokratis, serta menciptakan kondisi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam segala aspek...

lihat selengkapnya...

Alamat

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta 
Jl. Raya Tengah No.31 RT. 01/09, Kec. Kramat Jati,
Jakarta Timur 13540
Telepon: 021-87797289
Fax: 021-87793300 
Hotline : 081285552430
E-mail lbh.apik@gmail.com